TaeKwonDo is A Way Of Live

Taekwondo membentuk karakter, sikap, pikiran serta fisik insane manusia yang mempelajarinya. Taekwondo merupakan suatu disipilin ilmu, tidak hanya yang kita kenal sebagai ilmu bela diri, melainkan juga dewasa kini bahka disebut sebagai “way of life” (jalan hidup). Dari wawasan, buah pikiran, sikap, dan perilaku seorang taekwondoin mencerminkan kualitas taekwondo dalam dirinya, yang bertumbuh kembang sesuai dengan usia dan pengalamannya.”Nah, apakah kita betul seorang taekwondoin sejati?”

Taekwondo mengajarkan rasa hormat dan kasih sayang kepada sesame manusia. Maka tidaklah tepat bila taekwondo dipelajari untuk melukai atau mencelakakan orang lain, termasuk juga dalam suatu event turnamen (Kyorugi). Dengan menjunjung sportivitas dalam bertanding, atlit menampilkan segala kemampuannya (skill) yang baik, disamping memiliki fisik dan mental yang kuat, bukan karena kebengisannya. Karena  pemenang sejati adalah orang yang mampu mengatasi dirinya sendiri. Untuk menjadi seorang pemenang, atlet memang perlu ditempa melalui latihan yang memadai selama periode waktu yang cukup sebelum mengikuti pertandingan. Di dalam latihan rutin inilah para pelatih membentuk karakter dan jiwa taekwoondoin yang kuat dari para atletnya, bukan menjadikannya sebagai alat/mesin “pembunuh”,sehingga tampak dalam perilakunya sehari-hari. Yang kurang ramah, tidak dapat bergaul atau bersosialisasi, kurang menghormati sesama, tidak santun, bahkan terjerumus dalam pemakaian obat-obatan terlarang utnuk mencapai tujuannya dengan cara yang tidak wajar atau hanya sebagai pelarian atas kondisinya yang tertekan. Tak jarang kita mengamati wajah seorang atlet saat memasuki arena pertandingan seperti (maaf) sapi yang hendak di potong (ketakutan dan tertekan) atau bahkan sebaliknya memiliki ekspresi berlebihan seperti hendak membinasakan lawannya. Apakah kita hendak menciptakan manusia-manusia seperti itu??? Tentu “TIDAK!”.

Oleh karena itu, rasa hormat dan kasih sayang terhadap sesame harus terus ditanamkan selama masa pelatihan taekwond, tidak hanya mengajarkan tehnik bertarung. Karena hanya menguasai tehnik bertarung, tanpa disertai pikiran yang cerdas dan sehat, serta mental yang kuat, tidak akan membuahkan hasil yang baik dalam pertandingan. Atlet adalah juga manusia yang memiliki akal, budi, naluri dan perasaan, bukan sekedar alat untuk mendapatkan medali emas atau penghargaan, hanya demi melambungkan nama pelatih atau klub atau daerah atau Negara asalnya. Setiap atlet harus memiliki komitmen kepada dirinya sendiri untuk menjadi pemenang! Bertanding bukan untuk orang lain, namun untuk diri atlet sendiri, sehingga bisa “all out” menampilkan segala kemampuan terbaiknya.

Maka menjelang pertandingan, para ksatria Taekwondo (baik atlit, pelatih, maupun wasit) seyogyanya telaah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Dan pada hari pertandingannya, Ksatria Taekwondo akan mengatakan, “Syukur kepada Tuhaan Yang Maha Kuasa, inilah hari yang membahagiakan yang kutunggu-tunggu dalam hidupku, setelah berlatih dan mengadakan persiapan yang cukup, hari ini aku akan memperoleh kesempatan untuk menampilkan segala kemampuanku (sebagai atlit, pelatih, atau wasit.” Terutama sebagai atlet, akan melangakah memasuki arena pertandingan dengan kegembiraan dan penuh percaya diri, kemudian membungkuk dengan penuh rasa hormat pelatih, wasit, dan atlit lawannya sebagai ”partner” yang akan membantu mewujudkan penampilan terbaik sang atlit di hadapan ribuan penonton. Demikian juga setelah pertandingan selesai, sanga atlet kembalimemberi hormat dan menyalami atlet lawannya sebagai ungkapan terima kasih karena telah menjadi “partner” yang baik dalam mengeluarkan kemampuan terbaik dang atlet. Tentu pula sang atlet memberi hormat berterima kasih kepada wasit dan pelatih (bahkan juga kepada penonton) yang juga telah menjadikan penampilannya lengkap pada hari tersebut. Demikian seharusnya seorang “ksatria Taekwondo”

Sebagai wasit juga harus betugas secara professional, jujur, tegas, dan sepenuhnya sadar bahwa setiap keputusannya saat bertugas da pat mempengaruhi hasil suatu pertandingan. Oleh karena itu, wasit wajib senantiasa membekali dirinya dengan ilmu yang cukup dan wawasan yang terkini tentang taekwondo, khususnya tentang peraturan pertandingan, serta wajib menjaga disiplin, stamina, dan penampilannya agar bertugas dengan maksimal. Karena keputusan dan tindakan yang dibuat oleh wasit akan menentukan juga masa depan para atlet dalam pertandingan yang dipimpinnya. Sungguh, tugas wasit di dalam dan di luar arena bukan suatu hal yang sepele.

Demikianlah taekwondo sebagai “way of life”, membentuk karakter, perilaku, dan kualitas manusia untuk menjadi selalu lebih baik. Seperti pertanyaan ini“what is taekwondo for you?”(apakah arti taekwondo dalam hidupmu?”. Jawabannya adalah : “to be a better  person!” (“menjadi orang yang lebih baik!”).

Source : upevalentino.ngeblogs.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s